Minggu, 25 September 2016

PANGERAN UNYENG-UNYENG 3 PART 1


Namaku Hirman Setiawan. Orang bilang, di dalam diriku terdapat seribu keunikan yang membuatku berbeda. Entah apa keunikan tersebut aku juga kurang tahu. Tapi keunikan tersebut lebih mengarah ke aneh kata banyak orang. Tapi, ketika mereka ngomong kaya gitu, langsung aja aku balas “Aku itu beda”. So, itu lah pembelaanku terhadap bully an temen-temen yang kadang kurang ajar itu mulutnya.
            Entah apa dasar mereka mengatakan aku aneh. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, kuliah atau pergi entah kemana, aku selalu bercermin dulu deh, dan perasaanku biasa saja, gak ada yang aneh pada diriku. Atau memang hanya perasaanku saja ? Atau ada cabe yang nempel di gigiku ? Ah, masa tiap hari ada cabe nempel di gigi?
            Sebenernya aku sendiri juga merasa aneh pada diriku sendiri. (Yah akhirnya mengakui dirinya sendiri aneh) Bukan begitu sih, lebih tepatnya, aku merasa sejak kecil bahwa aku itu adalah seorang pemeran utama disetiap laga. Ciiiyyyeee PD banget. Ya, memang kenyataannya aku selalu berpikir demikian, entah apakah orang lain juga berpikir bahwa dia adalah pemeran utama juga atau hanya aku saja? Belum pernah aku bertanya pada orang lain. Tapi, faktanya aku adalah orang yang pemalu, jadi kalo dibilang PD (percaya diri) menurutku sangat jauh dari PD. Kata temen-temen aku kurang confident.
            Entah darimana aku berpikir bahwa aku adalah pemeran utama. Mungkin karena pengaruh lingkungan sejak kecil sehingga membuatku seperti ini. Ya, kalau dikata aku memiliki seribu keunikan, bolehlah boleh, tapi kalo keanehan janganlah.
            Sejak kecil, bahkan sejak lahir aku memiliki keunikan yang luar biasa. Keunikan apa saja ya? Yang pertama, aku lahir memiliki 3 unyeng-unyeng (pusaran yang ada di rambut). Kata orang, kalo anak punya 3 unyeng-unyeng  anak itu bakal nakal. Lebih anehnya lagi, unyeng-unyengku yang satu berada di depan. Aku juga heran kenapa ada unyeng-unyeng  disitu. Mungkin ini gara-gara karma dari bapakku. Dulu, ketika aku masih di kandungan ibuku, bapakku datang menjenguk temannya yang melahirkan, dilihatnya bayinya itu, nah bayi itu punya unyeng-unyeng yang berada di depan. Lalu bapakku bilang “Wah gantengnya anak ini punya unyeng-unyeng di depan hehehe.” Katanya dengan bercanda. Eh, ternyata karma pun tiba menimpa anaknya sendiri. Alhasil akupun jadi korban. Punya unyeng-unyeng 3 dan satu berada di depan pula.
            Kata orang-orang di desaku, anak yang punya unyeng-unyeng 3 itu bakal jadi anak nakal. Dan mitos itupun terjadi. Semenjak aku lahir, orang tuaku bukannya senang justru dibuat kebingungan gara-gara aku. Ya, sejak aku dilahirkan aku menangis tiada henti setiap malam selama satu minggu. Entah aku tidak tau kebenaran itu. Yang jelas, tetanggaku, kakekku, dan orang tuaku selalu bercerita seperti itu. Setelah aku memasuki masa balita, mitos itu tetap menghantuiku, aku menjadi anak yang nakal. Kalo aku minta sesuatu, apapun itu harus dituruti, jika tidak aku akan mengamuk, dan menangis tiada henti. Hingga barang-barang yang berada di toko ibukku aku hancurkan gara-gara permintaanku tak diturutin. Masa balita yang hebat dalam diriku yang membuat satu desa tak ada yang tak kenal diriku. Semua orang tau dan kenal dengan kenakalanku, dan aku mejadi topic perbincangan ibu-ibu setiap pagi.
            Kenakalan dan mitos unyeng-unyeng 3 menjadi keunikanku semasa balita. Kemudian semasa TK, keunikan kembali muncul pada diriku dan keunikan ini menjadi keunikanku sepanjang masa. Ya, aku masuk TK, suatu ketika aku naik kelas dan tinggal menunggu setahun lagi, aku akan lulus TK dan masuk SD. Namun, besoknya setelah aku dinaikkan kelas, tiba-tiba aku di turunkan kelas lagi. Waktu itu aku tidak mengerti apa-apa dan menjalani saja. Mungkin para pembaca, aku agak bodoh hingga aku diturunkan lagi, namun jangan salah. Ibuku lah yang menyuruh ibu guru menurunkan kelas, bukan karena aku terlalu bodoh atau bagaimana. Tetapi kejadian ini karena pengalaman orang tuaku yang menyekolahkan kakakku terlalu muda yang membuat dia kurang efisien. Alhasil akibat dari kejadian itu aku menjadi murid yang paling tua sejak TK, SD, SMP, SMA, bahkan kuliah. Aku menjadi orang yang paling tua diantara teman-temanku.
            Oh ya, kembali lagi, kenapa sih aku selalu berpikir bahwa aku adalah pemeran utama? Lingkunganlah yang bertanggungjawab atas ini semua. Karena aku adalah orang yang paling tua diantara teman-temanku, aku menjadi agak berani. Semasa TK, hampir setiap minggu aku membuat temanku menangis. Mengerjainya, membuat keributan di sekolah, membuat orang tuaku bingung, bahkan aku pernah menandatangani buku raport yang seharusnya ditandatangani oleh orang tuaku. Selain itu, aku selalu menjadi ketua kelas di setiap semester di sekolah. Teman-temanku selalu menunjukku menjadi ketua kelas, katanya aku yang paling tua dan selalu dapat rangking. (tanda bahwa aku gak bodoh banget wkwkwk). Gara-gara itu, aku merasa diriku selalu menjadi peran utama di dalam kehidupan ini.
            Ketika aku masuk SD, aku tidak nakal karena aku berada dalam satu sekolah bersama bapakku. Bapakku adalah seorang guru SD. Aku takut jika aku membuat onar, akan mempermalukan bapakku dan takut juga dihukum bapakku disekolah. Akhirnya masa SD terlewati dengan tidak teralu nakal. Kemudian aku masuk SMP, dan disinilah puncak kenakalan dan keunikan terjadi.
            TO BE CONTINUE….

Kamis, 22 September 2016

Sebuah Nama Sebuah Cerita


Halooo ! kenalin nama gue Hirman Setiawan. Eh ralat, namaku Hirman Setiawan. Ya sebenarnya aku gak terlalu suka sama logat loe gue, itu bukan karena gak ada alasan. Alasan pertama sudah jelas lah ya, aku bukan orang Jakarta atau betawi wkwk. Alasan yang kedua, lidahku terasa aneh aja kalo ngucapin loe gue. So, mending pake aku kamu aja ya, biar lebih nasionalis gitu hehe.
            Udah tau kan siapa nama ku, jadi nanti pas dicerita gak perlu tanya-tanya siapa aku. Okey. Sebenarnya namaku itu gak seperti biasanya. Maksudnya gimana tuh gak kaya biasanya ? Spesial ? Istimewa ? Aku rasa nggak deh. Jadi begini, dulu ketika aku lahir, bapakku memberiku nama Herman Setiawan bukan Hirman Setiawan. Tapi entah kenapa di akta kelahiranku tertulis Hirman Setiawan. Lalu, sebenarnya namaku itu pemberian siapa ya ? Bapakku ? atau malah tukang ketik akta kelahiran ? Hal it uterus berputar di otakku sampai sekarang. Gak penting amat wkwkwk.
            Namun, dengan salah ketik nama itu, membuat hidupku menjadi agak sulit. Orang tua ku bersikeras manggil namaku Herman bukan Hirman, alhasil akupun menganggap namaku Herman bukan Hirman. Hal it uterus berlanjut sampai aku kelas 6 SD. Hingga pada akhirnya bapakku sadar, di akta kelahiranku bernama Hirman. Akupun jadi sedikit susah, untuk ujian nasional nama yang terlulis harus sama dengan akta kelahiran jika tidak, maka nilai tidak akan keluar yang artinya tidak lulus. Ya masa ? aku gak lulus SD Cuma gara-gara salah nulis nama ? kan gak lucu juga ? Akhirnya dengan susah payah, akupun berusaha keras supaya aku membiasakan diriku menulis nama Hirman bukan Herman.
            Ujian nasionalpun dimulai dan aku sukses menuliskan namaku Hirman Setiawan bukan Herman Setiawan. Walaupun orang sekitar rumahku dan sekeluargaku masih memanggilku dengan Herman.  Aku berhasil lulus ujian nasional SD tanpa salah nama, itu adalah suatu kebanggaan tersendiri yang pernah kurasakan.
            Perihal nama, tidak begitu saja lepas dari diriku. Masalah nama ini terus saja berlanjut hingga dewasa. Beberapa aku lalui dengan baik, tapi beberapa justru menimbulkan polemic yang mendalam. Seperti halnya namaku yang berubah dari ibu kantin smp ku. Saat itu smp adalah saat-saat paling nakal, paling konyol paling gila dihidupku. Yah, salah satunya panggilan konyol yang dinobatkan ibu kantin smp ku. Namanya “Mbak Tengah” memang sih bukan nama aslinya, tapi aku menjulukinya seperti itu karena mbak Tengah ini posisi kantinnya berada paling tengah, jadi aku panggil aja mbak tengah. Eh, temen-temen semuanya jadi manggil mbak tengah. Sampai sekarang akupun gak pernah tau siapa nama mbak tengah itu hehe.
            Kembali lagi soal namaku, mbak tengah inilah satu-satunya yang manggil aku dengan sebutan yang berbeda. Kalau temen-temen sih biasa manggil aku “kremon” car abaca “mon” nya seperti “moon”(bulan) bukan “mon” (temon). Nah panggilan temen-temen kaya gitu, Cuma itu biasa sih, diplesetkan dari nama asli. Tapi, mbak tengah ini beda. Sejak pertama kesana, dan dia tanya namaku.
            “Eh, kamu namanya siapa ?” Tanya mbak tengah.
            “Hirman mbak.” Jawabku
            “Owalah, rumah kamu mana ?” tanyanya lagi.
            “Bungkal mbak, sana mbak selatan sana.”
            “Oooh, jauh ya rumahmu, ke sekolah naik apa ?”
            “Biasalah mbak, naik sepeda ontel”
            “Emang kamu kuat ? Badanmu kecil kaya gitu ?” Tanya mbak tengah ragu
(Memang postur tubuhku relative kecil daripada teman-temanku.)
            “Yaelah mbak jangan menilai dari fisiknya, tapi dari hatinya. Jangankan Bungkal sini mbak, ke Sawoo (salah satu kecamatan yang berada di gunung) aja aku kuat mbak.” Jawabku dengan sombong
            “Hehehe, bercanda min bercanda.” Jawabnya sambil ketawa kecil.
            “Min ?? Min siapa mbak ?” Tanyaku heran karena hanya ada aku disana
            “Namamu tadi Hermin kan ?” sambil garuk-garuk kepala.
            “Yaelah mbak, Hirman mbak, bukan Hermin.” Jawabku kesel.
            “Loh beda to ? yowes pokoknya itulah, susah bener namamu.”
            Sejak saat itu ketika aku ke kantin mbak Tengah, aku gak pernah dipanggil Hirman atau Herman, tapi malah Hermin. Ya ampun jadi kaya banci gitu namaku, sedih banget. Untungnya sih, temen-temenku gak manggil itu, masih aman lah bukan dikira banci.
            Hampir tiga tahun nama Hermin melekat padaku, tapi mbak Tengah saja sih. Masuk SMA, aku berharap gak berubah lah nama ini. Biarlah Hirman saja ya atau mentok-mentok Herman gapapa lah tapi jangan Hermin, malu gaes. Akhirnya selama SMA nama ku gak berubah, dan aku sangat bersyukur nama Hirman masih tetap sama.
            Setelah lulus SMA, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Aku kuliah di salah satu universitas negeri di kota Surakarta. Di sana lingkungannya nyaman, orangnya ramah-ramah. Tapi, entah gimana aku di takdirkan mendapat kos-kosan dimana kos-kosan ini isinya orang batak. Jadi ya sama aja lingkungannya ramah kalo temen-temen sekosan orang batak yang notabennya nadanya tinggi-tinggi banget. Sebenarnya sih bukan orang batak aja sih, ada juga yang jawa, tapi mayoritas mereka di kamar atas, sedangan orang batak ini banyak yang berada di bawah, dan entah kebetulan atau gimana aku kebagian kamar yang di bawah.
            Suatu ketika, aku berkenalan dengan salah satu orang batak ini, tapi orangnya berbeda dengan orang batak yang lainnya dia lumayan kalem. Dia asli orang medan kuliah di sini. Namanya Daniel. Bacanya tetep dieja ya DANIEL bukan DANIL. Gak tau kenapa tuh pengennya kaya gitu.
            “Haloo bang.” Sapa ku ke bang Daniel.
            “Halooo, kamu yang di kamar no 27 itu ya ?” Tanya bang Daniel.
            “Iya bang, Aku Hirman.” Sahutku.
            “Oh, aku Daniel.” Jawabnya.
            “Oh bang Danil ?” aku memastikan namanya.
            “Bukan Danil, tapi Daniel.” Jawabnya
            “Oh, Daniel, oke bang.”
            “Kamu tadi siapa ? Herman ?” Tanyanya memastikan.
(Wah ini, muncul perasaan gak enak nih, bakalan berubah lagi ini nama kayaknya)
            “Bukan bang, Hirman, pake i.” Tuturku.
            “Owalah Hermin ?” Sahutnya enteng.
            “Hirman bang, Hirman.” Jelasku lagi.
            “Yaa sama aja kali kenapa lah kau ini, katanya pakai I punya ? macam mana kau ini ?” Sahutnya dengan logat bataknya yang keras.
            Kampret emang ini orang, namanya sendiri ejaanya salah aja marah-marah, giliran nama orang lain aja di sama-samain. Entah sihir dari mana, semua orang batak yang ada di kamar bawah nggak ada yang gak panggil aku Hermin. Dan sampai sekarang nama panggilan itu masih melekat padaku. Entah sampai kapan nama itu akan selalu terngiang di telinga ini. Apalagi dengan nada batak itu, aduuuuh jadi pusing pala ente. Yah semoga aja cepet kelar orang-orang ini supaya nama keren pemberian bapakku gak meleneng jadi Hermin. Dan pesan satu lagi buat para pembaca, namaku bukan Herman atau Hermin, tapi HIRMAN. Ingat!

Senin, 29 Agustus 2016

PROSES MEMBUAT NATA DE COCO


Proses membuat nata de coco - Nata de coco termasuk bahan pangan sebagai minuman produk penerapan bioteknologi konvensional. Di samping tempe yang sudah dibahas sebelumnya, bahan pangan yang satu ini juga memanfaatkan mikroorganisme jamur dan bakteri sebagai agen biologi yang menghasilkan enzim untuk melakukan metabolisme.

Enzim yang diperlukan adalah selulase dengan agen biologi acetobacter xylinum dan bahan dasar yang digunakan adalah air kelapa.
Nah, sebagai kelanjutan materi bioteknologi konvensional dalam produksi pangan, kali ini Matra Pendidikan akan menyajikan proses pembuatan nata de coco. Nata de coco merupakan hasil fermentasi air kelapa dengan bantuan mikroba Acetobacter xylinum, yang berbentuk padat, berwarna putih transparan, berasa manis dan bertekstur kenyal.

A.Cara Membuat:
1. Air kelapa mentah di saring, dan dimasukkan ke dalam panci stenless ukuran 5 liter di masak sampai mendidih 100 derajat celcius.
2. Setelah mendidih masukkan gula putih 250 gr, za 0,5 gr, cuka 50 cc.
3. Campuran air kelapa yang sudah mendidih dimasukan ke dalam baki plastik yang bersih atau steril. 
4. Tutuplah baki-baki tersebut dengan kertas koran steril yang sudah dijemur dengan panas matahari. 
5. Baki-baki ditutup rapat dan disusun di atas rak baki secara rapi dan ditiriskan sampai dingin untuk diberi bibit nata de coco
6. Pembibitan dilakukan pada pagi hari dan hasil pembibitan ditutup kembali
Baki hasil pembibitan tidak boleh terganggu atau tergoyang.
7. Biarkan baki pembibitan itu selama satu minggu dan jangan terganggu atau tergoyang oleh apapun.
8. Buka hasil pembibitan setelah berumur satu minggu.

B.Cara Panen:
1. Nata yang terbentuk diambil dan dibuang bagian yang rusak (jika ada),lalu dibersihkan dengan air (dibilas). Kemudian direndam dengan air bersih selama 1 hari.
2.Pada hari kedua rendaman diganti dengan air bersih dan direndam lagiselama 1 hari.
3.Pada hari ketiga nata dicuci bersih dan dipotong bentuk kubus (ukuransesuai selera) kemudian direbus hingga mendidih dan air rebusan yang pertama dibuang.
4.Nata yang telah dibuang airnya tadi, kemudian direbus lagi danditambahkan dengan satu sendok makan asam sitrat.

C.Cara Mengolah:
1.Bila diolah sebagai campuran es buah, nata de coco ditambah dengan gula dan sirup.
2.Bila tak sempat mengolahnya, maka disimpan saja dalam lemari es.
Demikian proses pembuatan nata de coco, mudah-mudahan bermanfaat bagi semua khususnya siswa yang sedang melakukan praktik di sekolah.

Kamis, 21 Januari 2016

OSPEK


            Hari itu terlihat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Masih terlalu pagi untukku berdandan dan siap untuk berangkat kuliah untuk kali pertama. Dengan kemeja putih dan celana putih serta almamater yang ku kenakan, terasa sudah siap untuk berangkat menuju kampus baruku.
            Ya, hari itu adalah hari dimana aku menjalani ospek. Aku sendiri tidak paham dengan yang namanya ospek. Apa sih sebenarnya gunanya ospek itu ? Yang aku lihat hanya per-ploncoan, orang marah-marah, dan tugas yang aneh-aneh yang menurutku tidak terlalu bermanfaat bagiku. Namun, apalah dayaku sebagai mahasiswa baru ? Hanya melakukan apa yang telah ditugaskan saja lah, itu sudah untung tidak dimarahi.
            Jam ditanganku menunjukkan pukul 5.25, itu tandanya aku harus segera berangkat menuju kampus, karena di pengumuman kemarin, kumpul di lapangan pukul 6.30. Lalu aku segera bergegas memacu kendaraanku berharap semoga tepat waktu sesampainya disana.
            Sesampainya disana tepat pukul 6.30, lalu aku segera bergabung dengan para mahasiswa baru dari berbagai daerah dan jurusan. Kulirik kanan dan kiri namun tak ada satu orangpun yang ku kenal. Aku mencoba mencari temanku yang satu jurusan denganku D3 Teknik Kimia.
            “Alex !!” Teriak seseorang dari kerumunan.
            Aku terdiam sejenak mencari dari arah mana suara itu berasal. Lalu tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Akupun menoleh ke belakang dan melihat orang itu, sejenak aku terdiam dan berfikir, siapa ya dia ?? Setelah beberapa detik, akhirnya aku tau siapa orang ini.
            “Loh, Akbar !” Teriakku dengan kaget.
            “Baru datang ?” Tanyanya.
            “Iya nih, aku baru datang, mana yang lainnya ?” Tanyaku balik.
            “Nggak tau lex, tapi fakultas kita tempatnya disini, jadi kita disini aja.”
            “Oh, Oke Oke.”
            Akbar ini adalah salah satu temanku yang berasal dari bekasi. Dia orangnya mudah akrab dengan yang lain jadi gak heran jika sekarang dia sudah cukup banyak teman disini sedangkan aku baru beberapa teman saja.
            Setelah upacara selesai, kami digiring menuju auditorium untuk menjalani kuliah umum untuk kali pertama. Sesampainya disana aku sudah kenal dengan beberapa orang yang satu jurusan denganku, ada Udin, Deni, Arman, Dani, Nurul, Laras, Cindy, Tia, ya itulah beberapa orang telah ku kenal. Di auditorium kami hanya mendengarkan ceramah dari rektor sampai pukul 12.00.
            Ketika mendengarkan ceramah aku sempat berfikir apa yang akan terjadi setelah ini, yaa karena ospek sesungguhnya akan terjadi setelah ini. Benar saja ketika kami telah selesai mendengarkan ceramah, kami meuju fakultas masing-masing. Sesampainya di fakultas, kami memasuki ruangan, di dalam ruangan sudah terdapat bebrapa orang yang duduk didepan dengan wajah yang garang.
            “ waaaah ini mulai ini adegan marah-marahanya.” Pikirku.
            “Dek ! Kondusif dek !!!” teriak salah seorang laki-laki yang berwajah garang.
            Aku hanya diam saja dan segera mencari tempat duduk yang agak tersembunyi supaya tidak terlihat oleh kakak-kakaknya. Disampingku ada Akbar dan Laras, tampak wajah mereka juga di selimuti ketakutan. Wajar kami adalah mahasiswa baru yang belum tau apa-apa tentang bangku perkuliahan. Tiba-tiba terdengar suara yang keras dari belakang.
            “Hey kamu yang pake kaos kaki hitam !! Berdiri !!!” Teriak seseorang.
            Aku tidak tahu siapa yang dimaksud orang tersebut, aku hanya terdiam saja.
            “Kamu !! Heee !!! Malah diam saja !! Cepat kedepan sana !!”
            Aku kaget sekali ternyata yang dimaksud kakaknya adalah aku. Dengan wajah yang terlihat bodoh dan kaki yang gemetar aku berjalan menuju kedepan. Sesampainya didepan kulihat wajah semua teman-teman memperhatikanku, seolah-olah memang benar-benar salah.
            “Kamu itu bisa baca apa nggak ?! sudah jelas di pengumuman bertuliskan paki kaos kaki putih !!
            “Kamu itu mahasiswa teknik !! Harus jeli gak boleh keliru sedikitpun !!
            “Kalo gak tahu Tanya temennya !! Ngerti nggak ??!!” Bentaknya begitu keras
            “Iya kak” Jawabku lirih.
            “Jawab yang keras !!” teriaknya lagi     
            “Iya kak !”
            “Iya apanya ??!! Jangan cuma iya iya saja !! “ bentaknya lagi
            “Iya harus teliti kak.” Jawabku
            “Oke, ini hukuman buat kamu. Tulis 200 mimpi mu di selembar kertas folio, dikumpulkan besok ke saya jam 07.00. Mengerti ?! “
            “Siap, mengerti kak” Jawabku.
            Sial betul pikirku hanya gara-gara memakai kaos kaki hitam jadi kena hukuman. Aku memang benar-benar tidak tahu tentang peraturan itu. Mungkin ini yang dinamakan jatuh ketiban tangga, udah jatuh, ketiban tangga pula, sakit. Sudah malu maju sendirian dan di marah-marahin pula, lengkap sudah penderitaanku hari ini.
            “Hmmmm…..200 mimpi ??” Pikirku dalam hati
            Setelah kegiatan hari itu selesai aku segera pulang ke kosan untuk ngerjain tugas-tugas dan hukuman yang di berikan kakaknya tadi padaku. Jam dinding menunjukkan pukul 17.15 tandanya sudah beranjak petang dan aku harus buru-buru ngerjain tugas kalau tidak ingin kena marah lagi.
            Tanpa basa basi ku kerjakan semua tugas-tugas. Walaupun rasanya capek banget karena seharian penuh dengan kegiatan.
            “Fiiiuuuh, akhirnya selesai juga.” Kataku
            Kulihat jam tanganku ternyata keadaan sudah larut, dan aku belum ngerjain hukuman dari kakaknya tadi. Ku cari selembar kertas folio dan kucoba menulis beberapa kalimat dan bleeeekkk…… aku tertidur.
            Krrrriiiiiingggg……krrrrriiiiinngggg…..krrrrrriiiiinngggg”
            Ku coba buka mataku yang masih terpejam, ku raba-raba dan mencari darimana sumber suara itu. Ternyata hpku berada di atas meja. Ku buka mataku dan terhenyak.
            “Buusseeetdaah udah jam segini ??” Kataku panik.
            Benar saja jam menunjukkan pukul 05.00 dan aku masih menyisakan tugas hukumanku yang baru beberapa saja ku isi. Langsung saja kutulis apa adanya tanpa memikirkan apakah itu memang akan aku jalani atau hanya sekadar tuliusan saja. Sampai akhirnya aku selesai menulis 200 mimpi itu. Lalu kucepat-cepat mandi dan siap-siap untuk berangkat agar tak kena hukuman lagi. Sesampainya di kampus kulihat sudah ramai berkumpul di lapangan basket. Akupun segera menuju kesana.
            “Semuanya berkumpul !!! Siiiiaaaap grraaak !!
            “Siap deek !! Siaap !! Bisa baris gak ??!!
            “Udah pada gede baris aja gak bisa, malu dek ! malu !!
            “Siapa yang kemarin dapat hukuman ?! Cepat maju !
            “Gak ada yang ngaku ?! Cepat maju dek !!”
            Lalu aku maju dan nyerahin tugas hukmanku pada kakaknya.
            “Baca keras-keras dek di depan teman-temanmu !!”
            “Waduh gawat nih “ Kataku dalam hati.
            “Cepat baca !!”
            “Iya kak”
            “200 impianku 1. Membahagiakan orang tua 2. Jadi orang sukses 3. Jadi orang kaya 4. Dapat istri yang solehah 5. Jadi presiden RI……”
            “Sudah cukup. Semuanya bilang “Amiin”!”
            “Amiin” Serentak
            Malu banget sumpah dikerjain habis-habisan. Tapi, gapapa lah, itung-itung dapat do’a dari teman-teman semoga dapat terwujud semua 200 mimpiku. Setelah kejadian itu entah kenapa hari-hari ospekku beralan lancer tanpa hukuman apapun. Mungkin kakaknya sudah bosen karena yang kena hukuman hanya aku terus, hehehe. Akhirnya kegiatan ospek pun berakhir dan akhirnya bisa bebas tanpa tugas dan hukuman yang konyol lagi.

Rabu, 20 Januari 2016

SAHABAT


Sahabat
Karya : Hirman Setiawan

Kuat dan keras
Bukanlah sebuah batu
Bukan juga selapis baja
Tapi adalah tekad dan perjuanganmu


Kau tancapkan dalam-dalam tiangmu
Agar badai dan hujan takkan menggoyahkan
Kau tahu siapa dirimu
Kau tahu berapa besar kemampuanmu
Tapi kau tetaplah sama
Menjadi seorang yang selalu sama ketika kita bersama

Sahabat,
tak peduli kau seorang manajer atau direktur
tak peduli pakaianmu lusuh nan kotor
tak peduli keadaanmu susah atau senang
Kau tetaplah sahabatku
Yang menjadi tokoh setiap cerita di hidupku

Minggu, 17 Januari 2016

Cinta Abadi


Cinta Abadi
karya : Hirman Setiawan

Aku masih disini
Di tempat biasa ku melihat bintang-bintang
Mungkin kau sudah mengerti
Karena disnilah tempat kita beradu pandang


Aku masih disini
Dengan rasa yang semakin kuat
Meski ku tau kau takkan pernah kembali
Namun rasa ini akan terjaga sampai akhir hayat

Aku masih disini
Bersama janji-janji yang telah keluar dari hati nurani
Tak peduli apa yang terjadi aku akan selalu menepati
Walaupun jalan kita telah terbagi aku takkan pernah berhenti untuk menepati janji cinta abadi

Jumat, 15 Januari 2016

Teman atau Cinta

Teman ataukah cinta ?
Pandanganmu menusuk tajam dalam relung jiwa ini
Seakan menembus cakrawala hitam
Memberi penerangan terhadap jiwa yang kosong

Teman ataukah cinta ?
Sikapmu yang anggun nan elok kau pergakan
Seakan tampil dalam panggung sandiwara
Membawakan cerita cinta selamanya

Teman ataukah cinta ?
Senyumanmu yang sejuk kau perlihatkan
Memberikan nafas baru kehidupan
Bagi seseorang yang terlupakan
Teman ataukah cinta ?
Suaramu yang lembut membersihkan hati
Memberikan semua simpati
Kepadamu sang pujaan hati

Aku tak akan pernah tau apakah ini cinta ataukah sekadar buaian belaka
Aku takut untuk bertanya karena akan merusak cerita kita
Aku tak akan pernah tau apakah ini cinta ataukah sekadar tipu daya
Karena sesungguhnya aku telah jatuh cinta